Pages

26 Mar 2016

KONSISTENSI PERLU DILATIH

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali melakukan segala hal, baik itu yang baik maupun yang buruk. tapi sebagai manusia yang mempunyai kesadaran yang baik pasti selalu ingin melakukan semua hal yang baik secara konsisten, sebaliknya syaitan akan selalu menginginkan kita melakukan semua hal yang buruk.

Dalam hal ini kita mesti melatih keistiqamahan atau konsistensi kita terhadap melakukan sesuatu. Sebagaimana firman Alloh SWT dalam kitabnya yang mulia "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita." (Q.S. Al-ahqaf 13)

dari ayat di atas kita bisa lihat bahwa urgensitas konsistensi (pentinya istiqamah) mempunyai nilai yang sangat tinggi. dengan hanya pengakuan atau ikrar tentang keesaan Alloh disertai dengan istiqamah maka kita akan mendapatkan apa yang semua mahluk hidup harapkan.

Maka dari itu kita harus benar-benar memuhasabah diri kita, apakah sudah benar-benar konsisten kah diri kita? atau hanya melakukan sesuatu layaknya air yang mengalir atau pohon yang ditiup oleh angin? kita hanya mengikuti saja dan kita telah menjadi budak waktu bukan menjadikan waktu sebagai budak kita

Seperti yang faragrap di atas sebutkan bahwa musuh kita adalah syetan yang selalu menginginkan kita berbuat keburukan. kita harus benar-benar menganggap mereka pengganggu bahkan musuh yang sangat besar, maka dari itu kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Alloh dengan melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. karna larangan Alloh adalah Makanan Favorit syetan dan sebaliknya perintah Alloh adalah Makanan yang mereka benci.

Sekarang tinggal kita yang memutuskan jadi budak waktu atau waktu yang jadi budak kita, mau jadi budak Syetan atau jadi musuh syetan.

Wallahu a'lam bisshawab

24 Mar 2016

KRITERIA PEMIMPIN

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

“…….. jabatan adalah amanah, ia pada hari kiamat akan menjadikan yang menyandangnya hina dan menyesal kecuali yang mengambilnya dengan benar (bihaqqiha) dan menunaikan tugasnya dengan baik.” Itulah nasehat Rasulullah kepada Abu Dzar al-Ghifari yang meminta jabatan kepada beliau.

Sabda Nabi itu bukan hanya untuk Abu Dzar, tapi untuk umatnya. Nadanya seperti mengancam, tapi seorang Nabi perduli pada umatnya itu sedang mewanti-wanti. Ada tiga kriteria pejabat atau pemimpin (imam) yang tersembunyi dalam pesan diatas yaitu: amanah, mengambil dengan benar dan menunaikan dengan baik.

Kriteria diatas tidaklah sederhana. Sebab pemimpin dalam gambaran Nabi adalah pekerja bagi orang banyak, bukan sekedar penguasa. Dan pekerja seperti digambarkan oleh al-Qur’an harulah orang yang kuat dan terpercaya. “Sesunguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja, ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (al-Qashas :26)

Kuat pada ayat diatas adalah kuat bekerja dalam memimpin. Sedang maksud amanah adalah tidak berkhianat dan tidak menyimpang, dengan motif karena takut kepada Allah. Maka sebagai pekerja untuk umat, sifat kuat bekerja adalah prasyarat penting pemimpin. Tapi yang lebih penting lagi adalah menjaga sifat amanah yang bisa hilang karena tuntutan pekerjaannya. (Yususf al-Qaradhawi, Al-Siyayah al-Syar’iyyah Fi Dhaui Nushus al-Syari’ah wa Maqashiduha).

Nabi pun konsisten dengan kriterianya. Khalid bin Walid dan ‘Amr bin Ash yang baru masuk Islam diberi jabatan pimpinan militer. Padahal ilmu keislaman mereka berdua belum mamadahi. Tapi ternyata keduanya dianggap kuat bekerja dan mampu menjaga amanah. Sebaliknya, orang sealim Abu Hurairah yang sangat kuat hafalan haditsnya dan banyak mendampingi rasulullah tidak diberi jabatan apa-apa. Semangat Hasan bin Tsabit membela Islam juga tidak masuk kriteria orang yang layak memegang pimpinan atau jabatan. Tentu lagi-lagi karena tidak masuk kriteria pemimpin yang dicanangkan Nabi.

Masalahnya, seseorang bisa gagal menunaikan tugas kepemimpinannya karena tidak mampu mempertahankan amanah (khiyanat) atau karena tidak ada ilmu untuk itu (jahil). Maka al-Qur’an memberi pelajaran dari kisah Nabi Yusuf. Disitu dikisahkan bahwa ia diberi kedudukan tinggi oleh raja karena dapat dipercaya (amin), pandai menjaga (hafiz) dan berpengetahuan (alim) (Yusuf; 54-55). Ini berarti kriteria pemimpin ditambah satu syarat lagi yaitu “hafizh” artinya menjaga amanah. Hal ini disinggung Nabi dalam hadith yang lain: “Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang rakyatnya, apakah menjaganya (hafiza) atau menyia-nyaikannya.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Hibban). Syarat yang satu lagi adalah sifat al-‘Alim. Artinya mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya; mengetahui ilmu tentang tugasnya. Adalah malapetaka suatu bangsa jika pemimpin yang dipilih dan dipercaya rakyat ternyata tidak cukup ilmu tentang tugasnya. Inilah yang diwanti-wanti Umar ibn Khattab bahwa “amal tanpa ilmu itu lebih banyak merusak daripada memperbaiki”. Disini kita akan mafhum apa kira-kira sebabnya Abu Zar tidak diberi jabatan oleh Nabi.

Ringkasnya, pemimpin atau pejabat Muslim yang sesuai dengan ajaran Islam adalah yang bersifat amanah, memperolehnya dengan benar, menunaikan dengan baik, kuat, dapat dipercaya (amin), pandai menjaga (hafiz) amanahnya dan berpengetahuan (alim) tentang tugas kepemimpinannya.

Dari kriteria diatas, nampaknya Nabi tidak mengisyaratkan bahwa pemimpin Muslim itu harus seorang yang tinggi ilmunya dalam bidang agama. Seorang muslim dengan kekuatan leadership dan amanahnya bisa menduduki jabatan tertinggi meski ilmu agamanya tidak setingkat ulama. Ini pulalah yang disimpulkan oleh Yusuf al-Qraradhawi. Namun, tidak berarti orang yang buta agama atau bahkan yang sekuler-liberal bisa masuk dalam kriteria Nabi diatas. Sebab seseorang tidak akan amanah jika ia tidak memahami syariah. Pemimpin yang tidak tahu agama bisa lepas dari Tuhannya, atau jauh dari masyarakatnya. Sebab seorang pemimpin (amir/imam) memiliki dua tugas yakni : beribadah kepada Allah dan berkhidmat kepada masyarakat. Untuk beribadah diperlukan ilmu dan iman, untuk berkhidmat diperlukan ilmu untuk mensejahterakan rakyat. Oleh sebab “Pemimpin yang tidak berusaha meningkatkan materi dan akhalq serta kesejahteraan rakyat tidak akan masuk surga”. (HR Bukhari).

Kriteria pemimpin (amir/imam) yang dicanangkan Nabi dan ditambah dengan kriteria dari al-Qur’an itu diterjemahkan oleh al-Mawardi dalam al-Ahkam at-Sultaniyyah menjadi enam. Enam kriteria itu adalah berperilaku adil, memiliki ilmu untuk mengambil keputusan, panca indera yang sehat (khususnya alat dengar, melihat dan alat bicara), sehat secara fisik dan tidak cacat, perduli terhadap berbagai masalah, dan terakhir tegas dan percaya diri.

Namun, kriteria-kriteria diatas secara amali (praxis) berkulminasi pada dua sikap nurani yaitu pemimpin yang mencintai dan dicintai; yang mendoakan dan didoakan rakyat. Bukan pemimpin yang dibenci dan dikutuk oleh rakyat (HR Muslim). Tapi bagaimana akan mencintai rakyat jika pemimpin itu lebih cinta jabatan dan partai politiknya?.

23 Mar 2016

TAFSIER PENDIDIKAN
KONSEP MANUSIA DALAM ALQUR’AN
OLEH : HASANUDDIN, S.Pd.I
MUKADDIMAH
            Manusia adalah makhluk Allah SWT yang paling sempurna penciptaannya. Dalam al-qur’an surat Attin Allah SWT berfirman :
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS AT-Tiin:4).
Namun sering kali manusia itu sendiri yang tidak pernah merasakan akan kesempurnaan penciptaannya, bahkan dalam beberapa pendapat dari kalangan evolusionis mengatakan bahwa manusia itu merupakan hasil dari evolusi dari kera hal ini jelas menghina akan eksistensi manusia itu sendiri karena jika dikatakan manusia adalah hasil dari sebuah evolusi binatang berarti manusia tidak memiliki kemampuan untuk pengembangan dirinya sendiri. Hal ini bertentangan dengan firman Allah SWT yang menyatakan dalam al-qur’an :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS AL Hujurat : 13)
Sangat jelas dalam ayat ini Allah SWT menciptakan manusia itu dari seorang laki-laki yaitu nabi Adam as dan perempuan yitu Hawa, yang kemudian dari pasangan ini Allah SWT kembangkan menjadi manusia yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan dalam kitab tafsier Jalalain :
يَا أَيّهَا النَّاس إنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَر وَأُنْثَى" آدَم وَحَوَّاء "وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا" جَمْع شَعْب بِفَتْحِ الشِّين هُوَ أَعْلَى طَبَقَات النَّسَب "وَقَبَائِل" هِيَ دُون الشُّعُوب وَبَعْدهَا الْعَمَائِر ثُمَّ الْبُطُون ثُمَّ الْأَفْخَاذ ثُمَّ الْفَصَائِل آخِرهَا مِثَاله خُزَيْمَة : شَعْب كِنَانَة : قَبِيلَة قُرَيْش : عِمَارَة بِكَسْرِ الْعَيْن قُصَيّ : بَطْن هَاشِم : فَخْذ الْعَبَّاس : فَصِيلَة "لِتَعَارَفُوا" حُذِفَ مِنْهُ إحْدَى التَّاءَيْنِ لِيَعْرِف بَعْضكُمْ بَعْضًا لَا لِتُفَاخِرُوا بِعُلُوِّ النَّسَب وَإِنَّمَا الْفَخْر بِالتَّقْوَى "إنَّ أَكْرَمكُمْ عِنْد اللَّه أَتْقَاكُمْ إنَّ اللَّه عَلِيم" بِكُمْ "خَبِير" بِبَوَاطِنِكُمْ
Karena itu pernyataan tentang manusia adalah makhluk yang berasal dari evolusi kera merupakan sebuah kesalahan yang sangat fatal.
            Karena itu merenungkan akan eksistensi manusia bagi seorang muslim amatlah penting karena darisanalah akan berangkan kesadaran terhadap kewajiban dan haknya sebagai manusia yang seutuhnya sesuai dengan dasar Alqur’an. Karenanya penulis mencoba menyajikan tentang konsep manusia dalam Al-qur’an di makalah ini agar bisa sedikitnya kita memahami tentang hakikat manusia berdasarkan wahyu.
PENGERTIAN MANUSIA
            Dalam buku ensiklopedia manusia dikatakan bahwa : “Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari banyak sel. Manusia makan tumbuhan dan daging. Manusia tumuh mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Manusia menerima rangsang melalui panca indera. Manusia berkembang biak dengan cara kawin dan melahirkan”. (Djoko Susanto, Ensiklopedia Manusia, Ganeca Exact tahun 2006).
Jika kita perhatikan definisi ini maka gambaran kita tentang manusia tidak lebih baik dari seekor binatang yang beorientasi kepada unsure jasmaninya saja, yaitu makan, minum dan berkembang biak, tanpa adanya domain akal dan juga perasaan disana.
Sedang dalam kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan “manusia adalah  makhluk yang berakal budi (sebagai lawan lw binatang)” (W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka Jakarta, Tahun 2007).
Dalam definisi ini sedikit dikembangkan tentang adanya domain akal dalam diri manusia yang melahirkan sikap budi pekerti berbeda dengan binatang.
Adapun para ilmuwan barat membuat kategori tentang manusia sebagai berikut :
1.      Homo sapiens, yang berarti manusia berbudi
2.      Animal Rational, yang berarti hewan yang berfikir
3.      Homo Laquen, yang berarti makhluk yang pandai menejemahkan pikiran dan perasaan manusia dalam bentuk kata-kata sehingga tercipa bahasa.
4.      Homo faber, yaitu makhluk yang terampil dan pandai membuat alat-alat kebutuhannya. Biasanya juga dusebut tool making animal yaitu hewan yang pandai membuat alat.
5.      Zoon Politicon, yaitu makhluk yang pandai bekerja sama, bergaul dengan orang lain dan mengorganisir diri dan kebutuhan hidupnya.
6.      Homo Economicus, yaitu makhluk yang tunduk pada prinsip-prinsip ekonomi dan bersikap ekonomis
7.      Homo Religius, yang berarti makhluk beragama.( DR Ulil Amri Syafri, M.A. Pendidikan Karakter Berbasis AL-Qur’an, Rajagrafindo Jakarta, Tahun 2012).
Dari ketujuh kategori yang di kemukakan tersebut semua bersifat matrialistik, hanya satu yang menunjukkan bahwa manusia itu adalah makhluk beragama, namun penyebutan agama ini bersifat sekuler karena penyebutan agama disini hanya sesbagai identitas dari diri manusia itu sendiri. Bukan sebagi bentuk wujud fitrahnya.
MANUSIA MENURUT ALQUR’AN
Dalam Al-Qur’an manusia disebutkan dengan tiga istilah yaitu Al-Insan, An-Naas dan Basyar. Kata Al-Insan disebut kan sebanyak 65 kali, Basyar sebanyak 26 kali dan An-Naas sebanyak 241 kali (.( DR Ulil Amri Syafri, M.A. Pendidikan Karakter Berbasis AL-Qur’an, Rajagrafindo Jakarta, Tahun 2012).
Ketiga term Allah SWT sebutkan dalam Al-Qur’an dalam tempat – tempat yang berbeda adalah tidak lain karena ingin menunjukkan secara implisit akan hakikat manusia. Yaitu pertama ketika Allah SWT manyebutkan istilah Al-Insan bagi manusia ini menunjukkan manusia adalah makhluk yang berfirkir. Di dalam surat Arrahman ayat ke 3
خَلَقَ الإنْسَانَ
Dia menciptakan manusia  (QS Ar-Rahman : 3)
Allah SWT menyebutkan kata manusia dalam ayat tersebut dengan kalimat AL-INSAN  setelah ayat ini Allah SWT menyambungnya dengan ‘Allamahul Bayaan  artinya Yang mengajarkannya pandai berbicara.  Imam Al-qurtubi ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata :
{خَلَقَ الإِنْسَانَ} قال ابن عباس وقتادة والحسن يعني آدم عليه السلام. {عَلَّمَهُ الْبَيَانَ} أسماء كل شيء. وقيل: علمه اللغات كلها.
(kholaqol insaan) berkata Ibnu Abbas dan Qotadah dan yang betul yaitu Adam as. Sedang yang dimaksud dengan (Allamahul Bayaan) adalah nama-nama segala sesuatu. Dan dikatakn juga mengajarkan semua bahasa.
Lebih lanjut beliau mangatakan
{الإِنْسَانَ} يراد به جميع الناس فهو اسم للجنس و {الْبَيَانَ} على هذا الكلام والفهم، وهو مما فضل به الإنسان على سائر الحيوان
(Al-Insaan) yang dimaksud di sini adalah semua manusia semuanya yaitu nama bagi suatu jenis manusia dan (Albayan) adalah perkataan dan pemahaman dan itu yang melebihkan kedudukan manusia dari segala hewan. Dari penjelasn inilah kita bisa memahami bahwa kata Al-insan menunjukkan manusia itu adalah makhluk yang berfikir karena proses pengajaran bahasa kepada manusia itu menununjukkan adanya interaksi berfikir dari manusia. Kemudian dalam ayat yang lain Allah SWT menjelaskan tentang potensi berfikir diperoleh karena manusia memiliki unsure “Ruh” dalam dirinya diadalam ayat yang lain Allah SWT mengatakan :
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ
Artinya : Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS. As-Sajdah : 9).
Dari ruh yang ditiupkan oleh Allah SWT manusia kemudian dilengkapi potensi pendengaran, penglihatan dan hati sebagai alat untuk mencari ilmu. Disinilah nanti letaknya kecerdasan ruhiyah manusia. Dimana pendengaran, penglihatan dan hati digunakan untuk memahami ayat – yat kauniyah dan Qauliyah Allah SWT. Tetapi jika potensi pendengaran, penglihatan dan hati tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah SWT maka manusia itu akan digolongkan kedalam golongan yang sama saja dengan binatang bahkan lebih sesat dari binatang, hal ini dipertegas oleh Allah SWT ;
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’Araf : 179)
            Kedua An-Naas kata ini disebutkan oleh Allah SWT untuk menunjukkan bahwa manusia itu adalah makhluk yang memerlukan orang lain diluar dirinya sendiri, baik itu kebutuhan akan amanya dari rasa takut, kebutuhan akan ibadah, kebutuhan akan pemenuhan segala keperluan pribadinya ataupun yang lainnya. Di dalam surat Allah SWT berfirman :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Artinya : Katakanlah aku berlindug kepada Robnya manusia (QS An-Nas : 1)
Dalam ayat ini kata An-Nas disebutkan untuk menunjukkan bahwa manusia itu butuh perlindungan dari yang lebih berkuasa terhadap dirinya yaitu Allah SWT. Kemuadian dalam surat Albaqoroh ayat 21 :
 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (QS Albaqoroh : 21).
Di ayat ini kalimat An-Naas menunjukkan bahwa manusia itu butuh terhadap ibadah kepada Allah SWT , walaupun ayat ini bersifat perintah buakn berarti Allah SWT butuh terhadap ibadah manusia tetapi yang manusialah yang butuh terhadap ibadah karena disitu ada proses ta’dib untuk menjadi orang yang bertaqwa. Lalu dalam surat Al-Baqoroh ayat 8 :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
Artinya : Dan dari sebagian manusia ada yang berkata kami telah beriman kepada Allah SWT dan hari akhir akan tetapi sebenarnya mereka tidak beriman (QS Al-Baqoroh : 8)
Ayat ini sesungguhnya menjelaskan sifat orang yang Munafiq. Kalimat An-Naas dalam ayat ini menunjukkan bahwa manusia butuh interaksi social dengan sesama manusia. Namun etika yang di munculkan dalam interaksi tersebut seharusnya adalah kejujuran bukan sebuah kebohongan seperti orang maunafiq. Dan masih banyak lagi kalimat An-Naas yang digunakan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an untuk menegaskan bahwa adalah makhluk yang butuh kepada oarng lain. Kebutuhan terhadap yang lain dari dirinya menjadikan manusia itu seharusnya lebih tawadu’ baik terhadap Allah SWT maupun kepada sesama manusia.
Ketiga Al-Basyar, kata ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang memerlukan untuk pemenuhan kebutuhan biologisnya, seperti makan, minum, tidur dan juga berpasangan atau kepada yang lainnya. Hal ini seperti dinyatakan oleh Rasulullah :
إنى بشر مثلكم إنما يوحى الي
Artinya : Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian hanya saja aku diberikan wahyu (Al-Hadits)
Kalimat Al-basyar digunakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadits ini adalah untuk menunjukkan bahwa beliau juga manusia yang butuh terhadap pemenuhan kebutuhan biologisnya sama seperti yang lainnya namun beliau diberikan wahyu. Nah disini kita fahami bahwa pemenuhan kebutuhan biologis tidak terlarang hanya harus disesuaikan dengan wahyu, ketika kita butuh terhadap makan, maka cuma sehat dan bergizi tetapi bagaiaman makanan itu halal untuk dimakan. Begitu juga dengan kebutuhan yang lainnya. Dalam surat Al-Mudatssir ayat 25 Allah SWT berfirman :
إِنْ هَذَا إِلا قَوْلُ الْبَشَرِ      
Artinya :ini tidak lain hanyalah perkataan manusia"(QS Al-Mudatssir : 25).
Ayat ini menjelaskan tentang ketidak percayaan orang-orang kafir terhadap wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW maka mereka mengatakan bahwasannya apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW adalah perkataan orang biasa bukan perkataan wahyu.
Ayat ini menunjukkan  bahwa ketika manusia itu disebut dengan basyar maka manusia tidak memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk apapun sehingga perbuatan dan perkataannya tidak perlu dipercayai.
PENUTUP
       Dari paparan diatas maka bisa kami simpulkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki karakteristik yang sempurna secara jasadi, akal dan ruhiyah yang diberi kemampuan untuk pengembangan dirinya sendiri sebagai bekal untuk menjadi kholifah di muka bumi sebagai tujuan penciptaannya. manusia bukanlah seonggok daging dengan segala struktur tubuhnya yang rumit yang memerlukan kepada pemenuhan kebutuhan biologisnya sehingga orientasinya hanyalah bagaimana ia bisa bertahan di kehidupan dunia saja.
Tetapi manusia lebih terhormat dari pada itu, Allah SWT menempatkan manusia sebagai golongan makhluk yang begitu sempurna. Karenanya dalam kehidupan ini bagaimana kita bisa berbuat dan bersikap yang terbaik seperti manusia. Orientasi kita tidaklah seperti hewan yang begitu mati terbujur menjadi bangkai, tetapi manusia akan dimintai pertanggung jawabannya setelah kematiannya.
     Karena itu manusia membutuhkan arahan yang menumbuhkan kemampuan potensi diri manusia agar dia dapat mencapai tujuan dari penciptaan sebagai kholifah. Arahan tersebut adalah pendidikan yang bersifat holistic yang mencakup unsure jasmaniyah manusia, ruhiyah manusia dan akal manusia.
       Tulisan ini tidak menutup kemungkinan ta’rif dan tafsier yang lain tentang makna manusia dalam Al-Qur’an. Kami menyadari banyak kesalahan dan kekeliruan dalam tulisan ini karena itu mohon koreksi agar kami bisa memperbaiki yang lebih baik lagi. Akhir kata kebenaran hanya datang dari Allah SWT