TAFSIER PENDIDIKAN
KONSEP MANUSIA DALAM ALQUR’AN
OLEH : HASANUDDIN, S.Pd.I
MUKADDIMAH
Manusia
adalah makhluk Allah SWT yang paling sempurna penciptaannya. Dalam al-qur’an
surat Attin Allah SWT berfirman :
لَقَدْ
خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya : Sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS AT-Tiin:4).
Namun sering kali manusia
itu sendiri yang tidak pernah merasakan akan kesempurnaan penciptaannya, bahkan
dalam beberapa pendapat dari kalangan evolusionis mengatakan bahwa manusia itu
merupakan hasil dari evolusi dari kera hal ini jelas menghina akan eksistensi
manusia itu sendiri karena jika dikatakan manusia adalah hasil dari sebuah
evolusi binatang berarti manusia tidak memiliki kemampuan untuk pengembangan
dirinya sendiri. Hal ini bertentangan dengan firman Allah SWT yang menyatakan
dalam al-qur’an :
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ
شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS AL Hujurat : 13)
Sangat jelas dalam ayat ini Allah SWT
menciptakan manusia itu dari seorang laki-laki yaitu nabi Adam as dan perempuan
yitu Hawa, yang kemudian dari pasangan ini Allah SWT kembangkan menjadi manusia
yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan dalam
kitab tafsier Jalalain :
يَا أَيّهَا النَّاس إنَّا خَلَقْنَاكُمْ
مِنْ ذَكَر وَأُنْثَى" آدَم وَحَوَّاء "وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا"
جَمْع شَعْب بِفَتْحِ الشِّين هُوَ أَعْلَى طَبَقَات النَّسَب
"وَقَبَائِل" هِيَ دُون الشُّعُوب وَبَعْدهَا الْعَمَائِر ثُمَّ
الْبُطُون ثُمَّ الْأَفْخَاذ ثُمَّ الْفَصَائِل آخِرهَا مِثَاله خُزَيْمَة : شَعْب
كِنَانَة : قَبِيلَة قُرَيْش : عِمَارَة بِكَسْرِ الْعَيْن قُصَيّ : بَطْن هَاشِم
: فَخْذ الْعَبَّاس : فَصِيلَة "لِتَعَارَفُوا" حُذِفَ مِنْهُ إحْدَى
التَّاءَيْنِ لِيَعْرِف بَعْضكُمْ بَعْضًا لَا لِتُفَاخِرُوا بِعُلُوِّ النَّسَب وَإِنَّمَا
الْفَخْر بِالتَّقْوَى "إنَّ أَكْرَمكُمْ عِنْد اللَّه أَتْقَاكُمْ إنَّ
اللَّه عَلِيم" بِكُمْ "خَبِير" بِبَوَاطِنِكُمْ
Karena itu pernyataan tentang manusia
adalah makhluk yang berasal dari evolusi kera merupakan sebuah kesalahan yang
sangat fatal.
Karena
itu merenungkan akan eksistensi manusia bagi seorang muslim amatlah penting
karena darisanalah akan berangkan kesadaran terhadap kewajiban dan haknya
sebagai manusia yang seutuhnya sesuai dengan dasar Alqur’an. Karenanya penulis
mencoba menyajikan tentang konsep manusia dalam Al-qur’an di makalah ini agar
bisa sedikitnya kita memahami tentang hakikat manusia berdasarkan wahyu.
PENGERTIAN MANUSIA
Dalam buku ensiklopedia manusia
dikatakan bahwa : “Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari banyak sel. Manusia
makan tumbuhan dan daging. Manusia tumuh mulai dari bayi, anak-anak, remaja,
dewasa, hingga orang tua. Manusia menerima rangsang melalui panca indera.
Manusia berkembang biak dengan cara kawin dan melahirkan”. (Djoko Susanto,
Ensiklopedia Manusia, Ganeca Exact tahun 2006).
Jika kita perhatikan definisi ini maka
gambaran kita tentang manusia tidak lebih baik dari seekor binatang yang
beorientasi kepada unsure jasmaninya saja, yaitu makan, minum dan berkembang
biak, tanpa adanya domain akal dan juga perasaan disana.
Sedang
dalam kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan “manusia adalah makhluk yang berakal budi (sebagai lawan
lw binatang)” (W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka Jakarta, Tahun 2007).
Dalam definisi ini sedikit dikembangkan
tentang adanya domain akal dalam diri manusia yang melahirkan sikap budi
pekerti berbeda dengan binatang.
Adapun para ilmuwan barat membuat
kategori tentang manusia sebagai berikut :
1.
Homo sapiens, yang berarti
manusia berbudi
2.
Animal Rational, yang berarti
hewan yang berfikir
3.
Homo Laquen, yang berarti
makhluk yang pandai menejemahkan pikiran dan perasaan manusia dalam bentuk
kata-kata sehingga tercipa bahasa.
4.
Homo faber, yaitu makhluk
yang terampil dan pandai membuat alat-alat kebutuhannya. Biasanya juga dusebut tool
making animal yaitu hewan yang pandai membuat alat.
5.
Zoon Politicon, yaitu makhluk
yang pandai bekerja sama, bergaul dengan orang lain dan mengorganisir diri dan
kebutuhan hidupnya.
6.
Homo Economicus, yaitu makhluk
yang tunduk pada prinsip-prinsip ekonomi dan bersikap ekonomis
7.
Homo Religius, yang berarti
makhluk beragama.( DR Ulil Amri Syafri, M.A. Pendidikan Karakter Berbasis
AL-Qur’an, Rajagrafindo Jakarta, Tahun 2012).
Dari ketujuh kategori
yang di kemukakan tersebut semua bersifat matrialistik, hanya satu yang
menunjukkan bahwa manusia itu adalah makhluk beragama, namun penyebutan agama
ini bersifat sekuler karena penyebutan agama disini hanya sesbagai identitas
dari diri manusia itu sendiri. Bukan sebagi bentuk wujud fitrahnya.
MANUSIA MENURUT ALQUR’AN
Dalam Al-Qur’an manusia
disebutkan dengan tiga istilah yaitu Al-Insan, An-Naas dan Basyar. Kata
Al-Insan disebut kan sebanyak 65 kali, Basyar sebanyak 26 kali dan An-Naas
sebanyak 241 kali (.( DR Ulil Amri Syafri, M.A. Pendidikan Karakter Berbasis
AL-Qur’an, Rajagrafindo Jakarta, Tahun 2012).
Ketiga term Allah
SWT sebutkan dalam Al-Qur’an dalam tempat – tempat yang berbeda adalah tidak
lain karena ingin menunjukkan secara implisit akan hakikat manusia.
Yaitu pertama ketika Allah SWT manyebutkan istilah Al-Insan bagi manusia
ini menunjukkan manusia adalah makhluk yang berfirkir. Di dalam surat Arrahman
ayat ke 3
خَلَقَ
الإنْسَانَ
Dia menciptakan manusia
(QS Ar-Rahman : 3)
Allah SWT menyebutkan kata manusia dalam ayat tersebut
dengan kalimat AL-INSAN setelah
ayat ini Allah SWT menyambungnya dengan ‘Allamahul Bayaan artinya Yang mengajarkannya pandai
berbicara. Imam Al-qurtubi ketika
menafsirkan ayat ini beliau berkata :
{خَلَقَ الإِنْسَانَ} قال ابن عباس وقتادة والحسن يعني آدم عليه
السلام. {عَلَّمَهُ الْبَيَانَ} أسماء كل شيء. وقيل: علمه اللغات كلها.
“(kholaqol
insaan) berkata Ibnu
Abbas dan Qotadah dan yang betul yaitu Adam as. Sedang yang dimaksud dengan (‘Allamahul Bayaan) adalah nama-nama segala sesuatu. Dan
dikatakn juga “mengajarkan semua bahasa”.
Lebih lanjut beliau mangatakan
{الإِنْسَانَ} يراد به
جميع الناس فهو اسم للجنس و {الْبَيَانَ} على هذا الكلام والفهم، وهو مما فضل به
الإنسان على
سائر الحيوان
(Al-Insaan)
yang dimaksud di sini adalah semua manusia semuanya yaitu nama bagi suatu jenis
manusia dan (Albayan) adalah perkataan dan pemahaman dan itu yang melebihkan
kedudukan manusia dari segala hewan. Dari penjelasn inilah kita bisa memahami
bahwa kata Al-insan menunjukkan manusia itu adalah makhluk yang berfikir
karena proses pengajaran bahasa kepada manusia itu menununjukkan adanya
interaksi berfikir dari manusia. Kemudian dalam ayat yang lain Allah SWT
menjelaskan tentang potensi berfikir diperoleh karena manusia memiliki unsure “Ruh”
dalam dirinya diadalam ayat yang lain Allah SWT mengatakan :
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ
السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ
Artinya : Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam
(tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS. As-Sajdah :
9).
Dari
ruh yang ditiupkan oleh Allah SWT manusia kemudian dilengkapi potensi
pendengaran, penglihatan dan hati sebagai alat untuk mencari ilmu. Disinilah
nanti letaknya kecerdasan ruhiyah manusia. Dimana pendengaran, penglihatan dan
hati digunakan untuk memahami ayat – yat kauniyah dan Qauliyah Allah SWT.
Tetapi jika potensi pendengaran, penglihatan dan hati tidak digunakan untuk
memahami ayat-ayat Allah SWT maka manusia itu akan digolongkan kedalam golongan
yang sama saja dengan binatang bahkan lebih sesat dari binatang, hal ini
dipertegas oleh Allah SWT ;
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ
لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا
وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan
sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan
manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu
sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah
orang-orang yang lalai. (QS Al-A’Araf : 179)
Kedua
An-Naas kata ini disebutkan oleh Allah SWT untuk menunjukkan bahwa
manusia itu adalah makhluk yang memerlukan orang lain diluar dirinya sendiri,
baik itu kebutuhan akan amanya dari rasa takut, kebutuhan akan ibadah,
kebutuhan akan pemenuhan segala keperluan pribadinya ataupun yang lainnya. Di
dalam surat Allah SWT berfirman :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Artinya
: Katakanlah aku berlindug kepada Robnya manusia (QS An-Nas : 1)
Dalam
ayat ini kata An-Nas disebutkan untuk menunjukkan bahwa manusia itu
butuh perlindungan dari yang lebih berkuasa terhadap dirinya yaitu Allah SWT.
Kemuadian dalam surat Albaqoroh ayat 21 :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ
وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya
: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa (QS Albaqoroh : 21).
Di
ayat ini kalimat An-Naas menunjukkan bahwa manusia itu butuh terhadap
ibadah kepada Allah SWT , walaupun ayat ini bersifat perintah buakn berarti
Allah SWT butuh terhadap ibadah manusia tetapi yang manusialah yang butuh
terhadap ibadah karena disitu ada proses ta’dib untuk menjadi orang yang
bertaqwa. Lalu dalam surat Al-Baqoroh ayat 8 :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ
الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
Artinya : Dan dari sebagian manusia ada yang berkata kami telah
beriman kepada Allah SWT dan hari akhir akan tetapi sebenarnya mereka tidak
beriman (QS Al-Baqoroh : 8)
Ayat ini
sesungguhnya menjelaskan sifat orang yang Munafiq. Kalimat An-Naas dalam
ayat ini menunjukkan bahwa manusia butuh interaksi social dengan sesama
manusia. Namun etika yang di munculkan dalam interaksi tersebut seharusnya
adalah kejujuran bukan sebuah kebohongan seperti orang maunafiq. Dan masih
banyak lagi kalimat An-Naas yang digunakan oleh Allah SWT dalam
Al-Qur’an untuk menegaskan bahwa adalah makhluk yang butuh kepada oarng lain.
Kebutuhan terhadap yang lain dari dirinya menjadikan manusia itu seharusnya
lebih tawadu’ baik terhadap Allah SWT maupun kepada sesama manusia.
Ketiga
Al-Basyar, kata ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang
memerlukan untuk pemenuhan kebutuhan biologisnya, seperti makan, minum, tidur
dan juga berpasangan atau kepada yang lainnya. Hal ini seperti dinyatakan oleh
Rasulullah :
إنى
بشر مثلكم إنما يوحى الي
Artinya : Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian hanya saja
aku diberikan wahyu (Al-Hadits)
Kalimat Al-basyar digunakan oleh Nabi Muhammad SAW
dalam hadits ini adalah untuk menunjukkan bahwa beliau juga manusia yang butuh
terhadap pemenuhan kebutuhan biologisnya sama seperti yang lainnya namun beliau
diberikan wahyu. Nah disini kita fahami bahwa pemenuhan kebutuhan biologis
tidak terlarang hanya harus disesuaikan dengan wahyu, ketika kita butuh
terhadap makan, maka cuma sehat dan bergizi tetapi bagaiaman makanan itu halal
untuk dimakan. Begitu juga dengan kebutuhan yang lainnya. Dalam surat
Al-Mudatssir ayat 25 Allah SWT berfirman :
إِنْ
هَذَا إِلا قَوْلُ الْبَشَرِ
Artinya :ini tidak lain hanyalah perkataan
manusia"(QS Al-Mudatssir : 25).
Ayat ini menjelaskan tentang ketidak percayaan
orang-orang kafir terhadap wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW maka mereka
mengatakan bahwasannya apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW adalah
perkataan orang biasa bukan perkataan wahyu.
Ayat ini menunjukkan
bahwa ketika manusia itu disebut dengan basyar maka manusia tidak
memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk apapun sehingga perbuatan dan
perkataannya tidak perlu dipercayai.
PENUTUP
Dari paparan diatas maka bisa kami
simpulkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki
karakteristik yang sempurna secara jasadi, akal dan ruhiyah yang diberi
kemampuan untuk pengembangan dirinya sendiri sebagai bekal untuk menjadi
kholifah di muka bumi sebagai tujuan penciptaannya. manusia bukanlah seonggok
daging dengan segala struktur tubuhnya yang rumit yang memerlukan kepada
pemenuhan kebutuhan biologisnya sehingga orientasinya hanyalah bagaimana ia
bisa bertahan di kehidupan dunia saja.
Tetapi manusia lebih
terhormat dari pada itu, Allah SWT menempatkan manusia sebagai golongan makhluk
yang begitu sempurna. Karenanya dalam kehidupan ini bagaimana kita bisa berbuat
dan bersikap yang terbaik seperti manusia. Orientasi kita tidaklah seperti
hewan yang begitu mati terbujur menjadi bangkai, tetapi manusia akan dimintai
pertanggung jawabannya setelah kematiannya.
Karena itu manusia
membutuhkan arahan yang menumbuhkan kemampuan potensi diri manusia agar dia
dapat mencapai tujuan dari penciptaan sebagai kholifah. Arahan tersebut adalah
pendidikan yang bersifat holistic yang mencakup unsure jasmaniyah manusia,
ruhiyah manusia dan akal manusia.
Tulisan ini tidak menutup kemungkinan
ta’rif dan tafsier yang lain tentang makna manusia dalam Al-Qur’an. Kami
menyadari banyak kesalahan dan kekeliruan dalam tulisan ini karena itu mohon
koreksi agar kami bisa memperbaiki yang lebih baik lagi. Akhir kata kebenaran
hanya datang dari Allah SWT